Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tips Terbaik Budidaya Lada Merica
Minggu, 08 Desember 2013
Sejarah Singkat : Lada atau merica, Adalah Rempah-rempah yang berwujut bijian yang dihasilkan oleh tumbuhan dengan nama sama, Lada sangat penting dalam komponen masakan dunia, Dan di kenal luas sebagai komoditi perdagangan penting di dunia. Pada masa yang lampau harganya sangat tinggi sehingga menjadi salah satu pemicu penjelajahan orang Eropa ke Asia timur untuk menguasai perdaganganya, dengan demikian mengawali sejarah kolonisasi Afrika, Asia dan Amerika.
Hasil pengolahan merica ada 3 jenis yaitu, Lada hitam, putih dan hijau. Dari 3 jenis olahan yang di kenal hanya lada hitam dan lada putih. Untuk hasil olahan lada dari propinsi lampung dikenal dengan sebutan (Lampung black pepper) dan hasil olahan dari propinsi kepulauan bangka belitung dikenal dengan sebutan (Muntok White pepper) Sebutan tersebut dikenal karena Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia. Produksi perkebunan merica indonesia pada saat ini sekitar (11,50%) dari seluruh luas komoditi perkebunan dengan kemampuan modal yang lemah. Dampak dari kondisi tersebut yang diatas mengakibatkan perkembangan teknologi ditingkat petani untuk perbaikan mutu. Budidaya atau pengembangan tanaman sangat lambat dan tidak mengalami perubahan.
.jpeg)
Pada umur 3 tahun, Tanaman sudah dapat dipanen, Dan pertumbuhanya mencapai ujung tiang penegak dengan ketinggian (3,5 cm). Kemudian hasilnya mulai bertambah sampai tanaman berumur (8 Tahun), Kemudian mulai menurun. Jika tanaman dipelihara dengan baik, Tanaman masih dapat memproduksi sampai (15 tahun atau lebih). Sejak bunga keluar sampai buah masak, memakan waktu (7 - 9 bulan). Buah lada yang masih muda berwarna hijau muda, Kemudian berubah menjadi hijau tua dan apabila telah masak menjadi kuning Kemerah-merahan.
2.jpeg)
Pada tahap pembungaan dan pembuahan ini perlu diamati, kemungkinan adanya serangan kepik penghisap bunga (Diplogompus hewetii) dan kepik penghisap buah (Dasynus piperis). Kedua jenis hama tersebut Sama-sama menimbulkan kehilangan lansung pada produksi lada/merica (Buah keriput, rontok, dan sebagainya). Pemberantasan kedua jenis ini dapat dilaksanakan dengan menyemprotkan insektisida yang telah di setujui oleh komisi pestisida dengan frekuiensi 2 hingga 5 kali per tahun, Tergantung juga pada berat dan ringanya serangan kepik penghisap tersebut.
Syarat Pertumbuhan
1. Iklim : Curah hujan (2.000 - 3.000 mm/th). Cukup sinar matahari (10 jam sehari). Suhu udara (200C - 34 OC). Kelembaban udara (50% - 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% - 80% RH). Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang
2. Media Tanam : Subur dan kaya bahan organik. Tidak tergenang air atau terlalu kering. pH tanah 5,5 - 7,0. Warna tanah merah, Samapai warna merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol, dan Utisol. Kandungan humus tanah sedalam 1 - 2,5 m. Kemiringan lahan maksimal (300). Ketinggian tempat (300 - 1.100 m dpl).
Pedoman Teknis Budidaya Lada (Merica)
Pembibitan
1. Terjamin kemurnian jenis bibitnya.
2. Berasal dari pohon induk yang sehat.
3. Bebas dari hama dan penyakit.
4.Berasal dari kebun induk produksi yang telah berumur (10 bulan - 10 tahun). Dan kebutuhan bibit (2.000) bibit tanaman perhektar.
Pengolahan Media Tanam
1. Cangkul 1. Pembalikan tanah sedalam (20 - 30 cm).
2. Taburkan kapur pertanian dan diamkan (3 - 4 Minggu).
Dosis Kapur Pertanian
1. Pasir dan lempung berpasir : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah ke 6,5 = 0,9 ton /ha.
2. Lempung : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton /ha ; pH tanah ke 6,5 = 0,9 ton /ha.
3. Lempung Berdebu : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha ; pH tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha.
4. Lempung Liat : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha ; pH tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha.
Cangkul 2. Haluskan dan ratakan tanah
Teknik Penanaman
1. Sistem penanaman adalah monokultur (Jarak tanam 2 m x 2 m) Bisa juga di tanam dengan tanaman lain (Tumpang sari).
2. Lubang tanam di buat limas ukuran atas (40 cm x 35 cm), Bawah (40 cm x 15 cm) Dan kedalaman 50 cm.
3.Biarkan lubang tanam 10 - 15 hari barulah bibit di tanam.
4. Waktu penanaman sebaiknya pada musim penghujan atau peralihan dari dari musim kemarau ke musim hujan, Pukul 6. 30 pagi atau 16. 30 - 18. 00 Sore.
5. Cara Penanaman : Menghadapkan bagian yang di tumbuhi akar lekat kebawah,Sedangkan bagian belakang (Yang tidak di tumbuhi akar lekat) menghadap keatas.
6. Taburkan pupuk kandang 0,75 - 100 gram/tanaman.
7. Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas.
Pemeliharaan Tanaman
1. Pengikatan Sulur Panjat : Panjatkan pada tiang panjat dengan menggunakan tali,ikatkan dengan memilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.
2. Penyiangan Dan Pembubunan : Penyiangan setiap 2 -3 bulan sekali, Dan pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
3. Perempelan : Perempelan atau pemangkasan dilakukan pada batang, dahan, ranting yang tidak produktif, Atau terserang hama dan penyakit. Pucuk batang : Karena tidak memiliki dahan yang produktif. Dan batang yang telah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali.
4. Pemupukan Susulan : Lakukan pemupukan sesuai dengan aturan pupuk yang akan digunakan, Dan biasakan dengan menggunakan pupuk organik.
5. Pengairan Dan Penyiraman : Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali pada sore hari.Pada musim hujan tidak boleh air tergenang.
6. Pemberian Mulsa : Usia 3 - 5 bulan, Di beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan atau Alang-alang.
7. Penggunaan Tajar (Ajir) : Sebaiknya gunakan tajar atau ajir mati dari bahan kayu, pangkal tajar atau ajir diruncingkan, Dan bagian ujung di buat cabang untuk mendapatkan batang lada (merica) yang batangnya telah melebihi tinggi tajar/ajir. Panjang tajar (2,5 - 3 m).
Hama Dan Penyakit
1. Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis) : Ciri, Berwarna hitam, ukuran 3 - 5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan Cabang-cabang muda. Akibat lain Nimfanya (Serangga muda) Berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian : Dengan memotong cabang batang atau lakukan penyemprotan dengan bahan organik.
2. Hama Bunga : Ciri :Serangga dewasa berwarna hitam, Sayap seperti jala, Terdapat tonjolan pada punggungnya, Ukuran panjang (4,5 mm, dan lebar 3 mm). Gejala : Serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, Siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian : Pemotongan pada tandan bunga, atau lakukan penyemprotan dengan bahan organik.
3. Hama Buah : Ciri : Serangga berwarna hijau keccoklatan, Nimfanya tidak bersayap, Berwarna bening dan empat kali mengganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah hingga isi buah kosong. Telurnya bisa di letakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah. Siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian : Musnahkan telur di permukaan daun, cabang, Dan yang ada pada tandan buah atau melakukan penyemprotan dengan bahan organik.
Penyakit
1. Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) : Penyebab : Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala : Awal serangan sulit diketahui, Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan Garis-garis coklat kehitaman di bawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu, atau berwarna kuning. Pencegahan : Penanaman jenis lada (Merica) Tahan penyakit BPB.
2. Penyakit Kuning : Penyebab : Tidak terpenuhi berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP. N incognita dan Roty lenchus Similis. Gejala : Menyerang akar tanaman lada (merica) ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning dan tergantung berat ringanya inveksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian : Pemberian pupuk kandang, Pengapuran, Pemupukan tepat dan seimbang.
Dengan Catatan : Apabila pengewndalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.
Panen
Ciri-ciri Dan Umur Panen : Panen yang pertama pada umur 3 tahun atau kurang. Ciri-ciri : Tangkainya berubah agak menguning dan telah ada buah yang masak yang berwarna kuning atau merah.
Cara Pemanenan : Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, Dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada di ketiak dahan.
Periode Panen : Periode panen sesuai iklim setempat, Jenis lada (merica) yang di tanam dan intensitas pemeliharaan.
Sekian terimakasih karena anda telah menyimak dan membaca artikel Tips Terbaik Budidaya Lada (Merica) Tersebut, semoga banyak manfaatnya untuk anda tentunya pengunjung saya http://blogspot.com/2013/10/tips-terbaik-budidaya-lada-merica.html
Hasil pengolahan merica ada 3 jenis yaitu, Lada hitam, putih dan hijau. Dari 3 jenis olahan yang di kenal hanya lada hitam dan lada putih. Untuk hasil olahan lada dari propinsi lampung dikenal dengan sebutan (Lampung black pepper) dan hasil olahan dari propinsi kepulauan bangka belitung dikenal dengan sebutan (Muntok White pepper) Sebutan tersebut dikenal karena Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia. Produksi perkebunan merica indonesia pada saat ini sekitar (11,50%) dari seluruh luas komoditi perkebunan dengan kemampuan modal yang lemah. Dampak dari kondisi tersebut yang diatas mengakibatkan perkembangan teknologi ditingkat petani untuk perbaikan mutu. Budidaya atau pengembangan tanaman sangat lambat dan tidak mengalami perubahan.
Tips Terbaik Budidaya Lada (Merica)
.jpeg)
Pada umur 3 tahun, Tanaman sudah dapat dipanen, Dan pertumbuhanya mencapai ujung tiang penegak dengan ketinggian (3,5 cm). Kemudian hasilnya mulai bertambah sampai tanaman berumur (8 Tahun), Kemudian mulai menurun. Jika tanaman dipelihara dengan baik, Tanaman masih dapat memproduksi sampai (15 tahun atau lebih). Sejak bunga keluar sampai buah masak, memakan waktu (7 - 9 bulan). Buah lada yang masih muda berwarna hijau muda, Kemudian berubah menjadi hijau tua dan apabila telah masak menjadi kuning Kemerah-merahan.
2.jpeg)
Pada tahap pembungaan dan pembuahan ini perlu diamati, kemungkinan adanya serangan kepik penghisap bunga (Diplogompus hewetii) dan kepik penghisap buah (Dasynus piperis). Kedua jenis hama tersebut Sama-sama menimbulkan kehilangan lansung pada produksi lada/merica (Buah keriput, rontok, dan sebagainya). Pemberantasan kedua jenis ini dapat dilaksanakan dengan menyemprotkan insektisida yang telah di setujui oleh komisi pestisida dengan frekuiensi 2 hingga 5 kali per tahun, Tergantung juga pada berat dan ringanya serangan kepik penghisap tersebut.
Syarat Pertumbuhan
1. Iklim : Curah hujan (2.000 - 3.000 mm/th). Cukup sinar matahari (10 jam sehari). Suhu udara (200C - 34 OC). Kelembaban udara (50% - 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% - 80% RH). Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang
2. Media Tanam : Subur dan kaya bahan organik. Tidak tergenang air atau terlalu kering. pH tanah 5,5 - 7,0. Warna tanah merah, Samapai warna merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol, dan Utisol. Kandungan humus tanah sedalam 1 - 2,5 m. Kemiringan lahan maksimal (300). Ketinggian tempat (300 - 1.100 m dpl).
Pedoman Teknis Budidaya Lada (Merica)
Pembibitan
1. Terjamin kemurnian jenis bibitnya.
2. Berasal dari pohon induk yang sehat.
3. Bebas dari hama dan penyakit.
4.Berasal dari kebun induk produksi yang telah berumur (10 bulan - 10 tahun). Dan kebutuhan bibit (2.000) bibit tanaman perhektar.
Pengolahan Media Tanam
1. Cangkul 1. Pembalikan tanah sedalam (20 - 30 cm).
2. Taburkan kapur pertanian dan diamkan (3 - 4 Minggu).
Dosis Kapur Pertanian
1. Pasir dan lempung berpasir : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah ke 6,5 = 0,9 ton /ha.
2. Lempung : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton /ha ; pH tanah ke 6,5 = 0,9 ton /ha.
3. Lempung Berdebu : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton /ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha ; pH tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha.
4. Lempung Liat : pH tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha ; pH tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha ; pH tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha.
Cangkul 2. Haluskan dan ratakan tanah
Teknik Penanaman
1. Sistem penanaman adalah monokultur (Jarak tanam 2 m x 2 m) Bisa juga di tanam dengan tanaman lain (Tumpang sari).
2. Lubang tanam di buat limas ukuran atas (40 cm x 35 cm), Bawah (40 cm x 15 cm) Dan kedalaman 50 cm.
3.Biarkan lubang tanam 10 - 15 hari barulah bibit di tanam.
4. Waktu penanaman sebaiknya pada musim penghujan atau peralihan dari dari musim kemarau ke musim hujan, Pukul 6. 30 pagi atau 16. 30 - 18. 00 Sore.
5. Cara Penanaman : Menghadapkan bagian yang di tumbuhi akar lekat kebawah,Sedangkan bagian belakang (Yang tidak di tumbuhi akar lekat) menghadap keatas.
6. Taburkan pupuk kandang 0,75 - 100 gram/tanaman.
7. Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas.
Pemeliharaan Tanaman
1. Pengikatan Sulur Panjat : Panjatkan pada tiang panjat dengan menggunakan tali,ikatkan dengan memilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.
2. Penyiangan Dan Pembubunan : Penyiangan setiap 2 -3 bulan sekali, Dan pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
3. Perempelan : Perempelan atau pemangkasan dilakukan pada batang, dahan, ranting yang tidak produktif, Atau terserang hama dan penyakit. Pucuk batang : Karena tidak memiliki dahan yang produktif. Dan batang yang telah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali.
4. Pemupukan Susulan : Lakukan pemupukan sesuai dengan aturan pupuk yang akan digunakan, Dan biasakan dengan menggunakan pupuk organik.
5. Pengairan Dan Penyiraman : Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali pada sore hari.Pada musim hujan tidak boleh air tergenang.
6. Pemberian Mulsa : Usia 3 - 5 bulan, Di beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan atau Alang-alang.
7. Penggunaan Tajar (Ajir) : Sebaiknya gunakan tajar atau ajir mati dari bahan kayu, pangkal tajar atau ajir diruncingkan, Dan bagian ujung di buat cabang untuk mendapatkan batang lada (merica) yang batangnya telah melebihi tinggi tajar/ajir. Panjang tajar (2,5 - 3 m).
Hama Dan Penyakit
1. Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis) : Ciri, Berwarna hitam, ukuran 3 - 5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan Cabang-cabang muda. Akibat lain Nimfanya (Serangga muda) Berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian : Dengan memotong cabang batang atau lakukan penyemprotan dengan bahan organik.
2. Hama Bunga : Ciri :Serangga dewasa berwarna hitam, Sayap seperti jala, Terdapat tonjolan pada punggungnya, Ukuran panjang (4,5 mm, dan lebar 3 mm). Gejala : Serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, Siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian : Pemotongan pada tandan bunga, atau lakukan penyemprotan dengan bahan organik.
3. Hama Buah : Ciri : Serangga berwarna hijau keccoklatan, Nimfanya tidak bersayap, Berwarna bening dan empat kali mengganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah hingga isi buah kosong. Telurnya bisa di letakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah. Siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian : Musnahkan telur di permukaan daun, cabang, Dan yang ada pada tandan buah atau melakukan penyemprotan dengan bahan organik.
Penyakit
1. Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) : Penyebab : Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala : Awal serangan sulit diketahui, Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan Garis-garis coklat kehitaman di bawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu, atau berwarna kuning. Pencegahan : Penanaman jenis lada (Merica) Tahan penyakit BPB.
2. Penyakit Kuning : Penyebab : Tidak terpenuhi berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP. N incognita dan Roty lenchus Similis. Gejala : Menyerang akar tanaman lada (merica) ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning dan tergantung berat ringanya inveksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian : Pemberian pupuk kandang, Pengapuran, Pemupukan tepat dan seimbang.
Dengan Catatan : Apabila pengewndalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.
Panen
Ciri-ciri Dan Umur Panen : Panen yang pertama pada umur 3 tahun atau kurang. Ciri-ciri : Tangkainya berubah agak menguning dan telah ada buah yang masak yang berwarna kuning atau merah.
Cara Pemanenan : Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, Dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada di ketiak dahan.
Periode Panen : Periode panen sesuai iklim setempat, Jenis lada (merica) yang di tanam dan intensitas pemeliharaan.
Sekian terimakasih karena anda telah menyimak dan membaca artikel Tips Terbaik Budidaya Lada (Merica) Tersebut, semoga banyak manfaatnya untuk anda tentunya pengunjung saya http://blogspot.com/2013/10/tips-terbaik-budidaya-lada-merica.html
Tips Cara Memanfaatkan Taman untuk Belajar Fotografi
Selasa, 03 Desember 2013
- Tips Cara Memanfaatkan Taman untuk Belajar Fotografi, Banyak obyek yang bisa dijadikan sasaran di taman ini. Tidak hanya itu, berbagai teknik fotografi juga bisa dijajal di sini.
Memotret Sunrise dan Sunset
Mulai dari bagaimana memotret sunrise di pagi hari. Untuk yang satu ini seringkali saya terlambat mengejar matahari terbit. Maklum saja, masih tidak enak harus hunting sunrise di pagi hari sementara anak-anak harus pergi sekolah. Kalaupun libur, seringkali anak-anak masih malas diajak keluar rumah. Sudah pasti alasannya karena masih dingin. Yah, akhirnya didapatlah matahari yang sudah agak tinggi dengan langit yang sudah mulai biru.
Sumber: Hasil memotret sunrise menggunakan mode sunset yang sudah disediakan di kamera. Exif: shutter speed 1/500s, Aperture f/11.0, ISO 100, FL 18.0mm (Foto: Septin)
Tetapi lumayan, bisa praktik memotret sunrise. Awal latihan, saya biasanya menggunakan menu Landscape yang disediakan otomatis di kamera. Namun kadang hasil settingan otomatis di kamera tidak cukup memuaskan. Misal jika ingin sinar mataharinya ada efek starburst, meggunakan menu yang sudah ada di kamera kurang mantab atau bahkan seringkali malah tidak didapat hasil. Untuk mengatasi ini caranya, saya lihat dulu Exif dari mode sunset, kemudian saya pindah ke menu Manual dan kemudian menyetting kamera seperti mode sunset tadi. Tetapi Aperture-nya lebih kecil dari f/15. Sementara shutter speed bisa diotak-atik juga untuk menghasilkan gambar yang optimal.
Sunrise dengan starburst-nya juga ada orang yang lari pagi. Exif: shutter speed 1/100s, Aperture f/22.0, ISO 100, FL 34.0mm (Foto: Septin)
Sunset dengan matahari yang ada efek starburst. Exif: Shutter speed 1/40s, Aperture f/20.0, ISO 125, dan FL 21.0mm (Foto: Septin)
Memotret Landscape
Di taman ini juga bisa dimanfaatkan untuk belajar memotret Landscape. Namun, ada banyak tantangan ketika akan memotret Landscape di taman ini. Ketika musim panas, banyak sekali pengunjung untuk sekedar berjemur yang kadang membuat hasil kurang memuaskan karena terlalu banyak pernak-pernik orang berlalu lalang. Tantangan yeng berbeda terjadi ketika musim dingin, pengunjung sedikit tapi seringnya langit tidak mendukung. Memotret dengan langit kelabu atau putih mungkin tidak terlalu menarik kecuali ada Ray of Light (ROL) dari sela-sela awan tebal. Selain itu, yang pasti tangan kedinginan karena jika menggunakan kaos tangan, tangan kurang gesit.
Salah satu sudut Selly Park. Exif: 500s, f/5.3, 100, 48.mm (Foto: Septin)
Salah satu sudut Selly Park ketika tertutup salju. Exif: 1/125s, f/9.0, 400, 18.mm (Foto: Septin)
Belajar teknik panning
Karena pandangan bisa leluasa, taman ini juga cocok untuk mempraktekkan teknikpanning. Dalam fotografi, teknik ini digunakan untuk memberi kesan bahwa benda yang akan kita bidik sedang bergerak. Biasanya yang jadi model adalah mobil, sepeda atau orang yang sedang berjalan. Untuk mempraktekkan teknik ini memang lebih baik di lapangan yang luas, sehingga bisa diperkirakan datangnya obyek yang akan dibidik. Obyek yang akan dibidik diikuti geraknya, sehingga background yang akan nampak bergerak dan obyek yang jelas terekan di gambar. Jika tidak, malah akan mendapatkan gambar obyek yang bergerak, sementara background akan nampak jelas.
Karena pandangan bisa leluasa, taman ini juga cocok untuk mempraktekkan teknikpanning. Dalam fotografi, teknik ini digunakan untuk memberi kesan bahwa benda yang akan kita bidik sedang bergerak. Biasanya yang jadi model adalah mobil, sepeda atau orang yang sedang berjalan. Untuk mempraktekkan teknik ini memang lebih baik di lapangan yang luas, sehingga bisa diperkirakan datangnya obyek yang akan dibidik. Obyek yang akan dibidik diikuti geraknya, sehingga background yang akan nampak bergerak dan obyek yang jelas terekan di gambar. Jika tidak, malah akan mendapatkan gambar obyek yang bergerak, sementara background akan nampak jelas.
Mobil yang melaju kencang di dekat taman. Exif: shutter speed 1/50s, Aperture f/20.0, ISO 1250, dan FL 26.0mm (Foto: Septin)
Supaya memberi kesan bergerak, dalam teknik panning ini menggunakan shutter speed rendah. Ada yang bilang, di bawah 1/60s. Lebih dari itu, mobil akan nampak diam di tengah jalan yang ini bisa ditandai dari roda yang nampak jelas denganbackground yang juga nampak jelas, tidak terkesan bergerak. Misalnya gambar helikopter di bawah ini. Karena menggunakan shutter speed tinggi, yaitu 1/800, baling-baling terlihat diam.
Helikopter yang melintas di atas Selly Park. Exif: Shutter speed 1/800s, Aperture f/18.0, ISO 1250 dan FL 102.0mm (Foto: Septin)
Memotret Binatang
Di taman ini pada musim tertentu banyak didatangi burung camar selain burung dara dan burung gagak. Tentu saja, burung-burung tersebut ini bisa menjadi model yang cantik. Terutama burung camar yang warnanya putih dan besar.
Memotret burung bisa menggunakan teknik panning dimana kita mengikuti obyek sasaran supaya obyek nampak jelas. Memotret mobil, pesawat dan burung ternyata tidak sama. Mobil dan pesawat masih bisa diperkirakan arah melajunya. Sementara burung, bisa belak-belok semau mereka. Maklum sudah mahir terbang, jadi mau belok kapanpun, bisa saja.
Burung camar terbang rendah di Selly Park. Exif: Shutter speed 1/640s, Aperture f/5.6s, ISO 100, dan FL 300.0mm (Foto: Septin)
Burung camar terbang di langit di atas Selly Park. Exif: Shutter speed 1/640s, Aperture f/5.6s, ISO 100, dan FL 300.0mm (Foto: Septin)
Untuk memotret burung, menggunakan bisa shutter speed tinggi supaya gambar burung bisa nampak jelas. Kalau menggunakan shutter speed rendah, bisa jadi gambar burung akan tidak jernih. Namun jika ingin memberi kesan burung sedang meluncur cepat dan background terlihat bergerak, bisa menggunakan teknik panningyang menggunakan shutter speed tidak terlalu tinggi. Untuk ini tidak mudah mendapatkan gambar burung yang jelas. Butuh latihan berkali-kali untuk mendapatkannya.
Sport Photography
Ketka sore hari, banyak orang beraktifitas di Selly Park. Ada yang hanya sekedar jalan-jalan, anak-anak bermain di playground, dan olahraga. Ketika banyak orang sedang olah raga, bisa dipraktekkan sport photography.
Anak-anak bermain bola di Selly Park. Exif: Shutter speed 1/2000s, Aperture f/11.0, ISO 1600 dan FL 200.0mm (Foto: Septin)
Memotret kategori ini bisa langsung menggunakan mode sport. Tapi jika tidak puas dengan mode ini, yang harus menjadi catatan adalah untuk memotret kategori sportmenggunakan shutter speed tinggi supaya gerakan obyek bisa tertangkap dengan jelas. Sama halnya dengan memotret burung
Belajar reflection
Belajar reflection di taman? Bisa saja. Cukup dengan menggunakan kacamata yang bisa memantulkan gambar atau memanfaatkan apa saja di sekitar. Anak bisa dijadikan model. Pemandangan di sekitar taman bisa dijadikan obyek reflection yang menarik. Untuk memotret reflection, tentu saja fokusnya adalah ke yang bisa memantulkan obyek yang akan dibidik.
Reflection dari kacamata. Exif: shutter speed 1/50s, Aperture f/11.0, ISO 250, dan FL 44.0mm (Foto: Septin)
—00Ooo—
Masih banyak yang bisa dilakukan di taman seperti memotret aktifitas orang-orang yang ada di taman. Kebetulan di Selly Park disediakan playground dan fasilitas untuk fitnes. Kegiatan anak-anak di playground dan orang-orang yang sedang fitnes bisa jadi obyek yang menarik. Ini bisa masuk kategori candid dan street photography atau yang lainnya.
Fitnes bersama keluarga. Exif: Shutter speed 1/60s, Aperture f/5.6, ISO 180, dan FL 250.0mm (Foto: Septin)
Memotret aktfitas anak di taman bisa untuk latihan street photography. Exif: shutter speed 1/60s, aperture f/13.0, ISO 500 dan FL 48.0mm (Foto: Septin)
Di malam hari, di sekitar taman ini juga bisa dimanfaatkan untuk memotret. Untuk yang satu ini, saya masih belum juga menghasilkan gambar yang bagus.
Uji coba night shoot yang belum maksimal dan tidak menggunakan tripod. Exif: shutter speed 1/3s, aperture f/22.0, ISO 5600, dan FL 18.0mm (Foto: Septin)
Besi ayunan. Belajar motret bokeh. Exif: shutter speed 1/1000s, aperture f/5.6, ISO 800, dan FL 55.0mm (Foto: Septin)
Selain memotret aktifitas, pohon, kursi, ayunan, pagar, rumput bisa dijadikan obyek bidikan. Apakah obyek-obyek ini menarik? Tetap menarik dan bisa dikategorikan ke abstrak.
Bergabung dengan Kampret (Kompasianer Hobi Jepret) sejak 3 Agustus 2012. Masih anak baru di Kampret. Tapi Weekly Photograpgy Challenge (WPC) yang diadakan Kampret sangat membantu mencerdaskan kemampuan fotografi saya. Banyak tantangan motret dari Kampret yang saya ambil di Selly Park ini, meski akhirnya banyak juga yang tidak sempat terkirim dan diikutkan, karena sudah terlambat alias tantangannya sudah berlalu. Tetapi bisa saja hasilnya dikirim ke yang lain misal keGallery Phoography Indonesia (GPI) atau ke yang lebih mendunia ke 1x.com,500px.com, IPA (Invisible Photography Asia). Untuk ketiga yang terakhir saya belum mencoba, hanya sebagai penikmat foto-foto saja. Tapi yang jelas, salah satu dari tantangan WPC group facebook kampret yang tidak sempat saya submit ke WPC, yang obyeknya saya ambil dari Selly Park, akhirnya saya submit ke GPI dan mendapat frame GPI.
Frame keempat dari GPI, obyek diambil di Selly Park (Foto: Septin)
Frame pertama dari GPI, obyek diambil di Selly Park (Foto: Septin)
Sebelumnya, frame pertama dari GPI, obyeknya juga saya ambil di Selly Park ketika sedang latihan membidik kategori sport, yang lagi-lagi ilmunya saya dapat daribenchmark karya-karya Kampretos ketika WPC.
Jadi yang saya terapkan sekarang adalah “Belajar di Kampret untuk ajang fotografi yang lebih besar“. Semoga Kampret selalu bermanfaat bagi kami, para pecinta fotografi dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara melalui jepretan-jepretan maut dari para Kampretos.
| sumber: |
Tips Menambahkan Banner gif Pada Blog
Jumat, 29 November 2013
Sobat punya blog baru?, dan punya keinginan untuk menambah gambar bergerak atau banner.gif ke dalam blog, tapi kebingungan bagaimana cara pasang atau cara menambahkan gambar/banner bergerak (format.gif) ke dalam blog. Mungkin seperti ini :
Ternyata caranya gampang banget lho..sobat hanya menyiapkan gambar atau banner yang dikehendaki, kemudian menguploadnya ke server yang memberikan layanan upload and share banner,images dan video.
Cara menambahkan banner yang dapat dilakukan sebagai berikut :
Ternyata caranya gampang banget lho..sobat hanya menyiapkan gambar atau banner yang dikehendaki, kemudian menguploadnya ke server yang memberikan layanan upload and share banner,images dan video.
Cara menambahkan banner yang dapat dilakukan sebagai berikut :
- Membuat atau menyiapkan banner yang ingin dipasang, bisa menggunakan software pembuat banner seperti corel draw atau make banner pro yang otomatis.
- Kunjungi http://photobucket.com untuk mengupload banner yang anda miliki.
- Jangan lupa pilih link share lewat Blog.
- Sobat akan mendapat link/url untuk menuju banner milik sobat, sebagai contoh :
Keterangan : warna merah adalah link banner anda.
Selamat Mencoba..
Langganan:
Postingan (Atom)